DaerahPendidikanUtama

Dindikbud Kota Serang Dorong Siswa Tak Lagi Terjebak Hafalan

SERANG, jejakbanten.com – Siswa di Kota Serang didorong tidak hanya mengandalkan hafalan saat mengikuti pembelajaran di sekolah.

Kemampuan memahami persoalan, membangun nalar, menganalisis hingga mengomunikasikan hasil pemikiran menjadi bagian yang mulai diperkuat dalam proses belajar.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Serang, Ahmad Nuri mengatakan, Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 masih digunakan di satuan pendidikan.

Keduanya kini didukung pendekatan pembelajaran deep learning yang menempatkan pemahaman siswa sebagai bagian penting dalam proses belajar.

“Tidak lagi terjebak pada hafalan sesungguhnya, tapi bagaimana dia mengerti tentang persoalan yang dihadapi, bagaimana materi yang dia pelajari itu sesungguhnya,” ujarnya, Rabu 26 Agustus 2026.

Menurutku, siswa perlu mendapat ruang untuk mengembangkan nalar, dan proses pembelajaran diarahkan agar peserta didik mampu melihat, menganalisis, menyaksikan, menceritakan, kemudian mengomunikasikan apa yang dipahaminya.

Ia menyebut pendekatan deep learning memiliki tiga unsur, yakni pembelajaran berkesadaran, kebermaknaan, dan menyenangkan.

“Memang ada perubahan signifikan bahwa seluruh di ruang kelas itu dianggap setara merdeka. Tinggal nanti dibangun pada nalar, pada melihat, menganalisa, terus menyaksikan, menceritakan, mengkomunikasikan itu yang sesungguhnya sedang dibangun,” jelasnya.

Selain itu, ia menuturkan perubahan tersebut tidak berarti siswa dilepas tanpa arah. Kurikulum Merdeka tetap memberikan kerangka pembelajaran, sedangkan satuan pendidikan memiliki ruang untuk menentukan cara yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Ia mencontohkan pembelajaran matematika. Jika sebelumnya siswa banyak menghafal perkalian atau rumus, kini guru dapat menggunakan metode yang membantu anak memahami konsep dan menemukan cara penyelesaian yang lebih cepat.

Perubahan pola belajar itu juga menuntut guru untuk terus menyesuaikan diri, dan guru harus mampu mengikuti perkembangan kurikulum, metode pembelajaran hingga penggunaan teknologi digital di kelas.

“Kalau gurunya tidak memiliki adaptif, dia berkungkung pada persoalan yang dulu saja, dia tidak akan pernah menemukan pembelajaran efektif untuk mencerdaskan anak bangsa,” katanya. (rk/yd/jb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *