DaerahUtama

Kualitas Udara Kota Serang Masih Sedang, Asap Kendaraan Jadi Sumber Polusi Utama

SERANG, jejakbanten.com – Di tengah kabar sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat terdeteksi di atmosfer Banten, kualitas udara di Kota Serang masih berada pada kategori sedang.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang mencatat, hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan angka 99.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kota Serang, Didi Rosyadi mengatakan, angka tersebut masih masuk kategori sedang berdasarkan hasil pemantauan menggunakan alat pemantau kualitas udara milik pemerintah daerah.

“Untuk saat ini kondisi udara di Kota Serang masih dalam keadaan sedang. Hasil dari alat kami di angka 99,” ujarnya, Senin, 26 Oktober 2026.

Menurut Didi, pencemaran udara di Kota Serang lebih banyak bersumber dari asap kendaraan bermotor. Sementara itu, dampak asap karhutla dari luar daerah terhadap kualitas udara setempat belum menunjukkan pengaruh besar berdasarkan hasil pemantauan yang dimiliki DLH.

“Kalau Kota Serang itu cenderung dari asap kendaraan bermotor. Paling banyak polusinya dari situ,” katanya.

DLH Kota Serang menggunakan alat pemantau kualitas udara bantuan Kementerian Lingkungan Hidup.

Pengukuran dilakukan dengan memperhatikan konsentrasi partikel PM2.5 dan PM10.

“PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang antara lain dapat berasal dari asap kendaraan bermotor, sedangkan PM10 mencakup partikel berukuran lebih besar,” jelasnya.

Didi menjelaskan, nilai indeks 51–100 masuk kategori sedang, sedangkan nilai 101–200 tergolong tidak sehat dan 201–300 masuk kategori sangat tidak sehat.

Meski kondisi udara masih berada pada kategori sedang, pemantauan tetap diperlukan untuk melihat perubahan kualitas udara.

Paparan asap berlebihan dalam waktu lama berpotensi mengganggu kesehatan, terutama memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Asap pekat juga dapat mengurangi jarak pandang dan menghambat aktivitas masyarakat di jalan.

“Jika terjadi paparan asap yang berlebihan di Kota Serang, banyak akibatnya, terutama ISPA atau penyakit saluran pernapasan akut. Pandangan ke jalan juga akan terhambat,” kata Didi.

Untuk mengendalikan pencemaran udara, DLH Kota Serang mengupayakan penghijauan melalui penanaman pohon di ruang terbuka hijau.

Pemeriksaan emisi kendaraan bermotor juga menjadi salah satu upaya pengendalian, tetapi saat ini belum dapat dilaksanakan karena kendala teknis pada peralatan.

Selain itu, DLH terus menyosialisasikan larangan membakar sampah sembarangan. MMenurutnya, kebiasaan tersebut masih menjadi tantangan karena sebagian masyarakat belum memahami dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

“Kami terus melakukan sosialisasi terkait pembakaran sampah karena itu bisa merugikan masyarakat sekitar,” tuturnya.

Didi juga meminta masyarakat mengurangi sampah dari rumah, tidak membuang sampah di lokasi liar, serta menempatkannya di lokasi yang telah disediakan agar lebih mudah diangkut petugas.

Penghijauan di lingkungan permukiman juga perlu dilakukan untuk membantu menjaga kondisi lingkungan.

“Kalau udara sudah tidak sehat, masyarakat harus mengurangi kegiatan yang tidak disarankan, terutama pembakaran sampah. Kita juga harus melakukan penghijauan,” paparnya. (rk/yd/jb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *