
Bahasa Jawa Serang Terancam Punah, 100 Ribu Siswa Jadi Sasaran Pelestarian
SERANG, jejakbanten.com – Bahasa Jawa Serang menghadapi ancaman kehilangan penutur aktif di kalangan generasi muda.
Sebagian anak muda masih memahami bahasa daerah tersebut, tetapi tidak lagi menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
Pemerintah Kota (Pemkot) Serang mendorong pelestarian bahasa ibu tersebut melalui satuan pendidikan.
Sekitar 100 ribu siswa SD dan SMP di Kota Serang menjadi sasaran utama agar Bahasa Jawa Serang tetap digunakan dan tidak berhenti sebagai bahasa yang hanya dipahami.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Serang, Ahmad Nuri mengatakan, salah satu langkah yang diterapkan yakni program Rebo Nyasrang.
Melalui program tersebut, seluruh satuan pendidikan didorong menggunakan Bahasa Jawa Serang setiap Rabu.
Menurutnya, penggunaan bahasa daerah di sekolah tidak hanya diarahkan untuk menjaga keberlangsungan bahasa, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
“Di satuan pendidikan, kita menerapkan penggunaan Bahasa Jawa Serang setiap hari Rabu. Target kita, dari total 100 ribu siswa SD dan SMP di Kota Serang, minimal mereka bisa melestarikan bahasa ibu tersebut,” ujarnya, Selasa 22 September 2026.
Ia berharap pelestarian bahasa daerah tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau perlombaan.
Penggunaan Bahasa Jawa Serang, harus menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan.
“Harapannya, FTBI bukan sekadar seremonial, melainkan mampu membentuk karakter,” katanya.
Ancaman terhadap keberlangsungan Bahasa Jawa Serang juga disoroti Kantor Bahasa Provinsi Banten.
Widyabasa Ahli Pertama Kantor Bahasa Provinsi Banten, Flora Sinamo mengatakan, penggunaan bahasa ibu di kalangan generasi muda terus mengalami penurunan.
Menurutnya, persoalan utama bukan hanya berkurangnya penggunaan bahasa daerah, tetapi munculnya generasi muda yang hanya mampu memahami tanpa dapat menggunakannya secara aktif.
“Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Generasi muda tidak lagi menggunakan bahasa daerah. Kalaupun paham, mereka hanya menjadi penutur pasif, sekadar mengerti, tetapi tidak bisa mengucapkannya,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Bahasa Jawa Serang tidak cukup hanya dipertahankan melalui pemahaman.
Bahasa daerah membutuhkan penutur aktif yang menggunakan bahasa tersebut dalam komunikasi sehari-hari.
“Karena itu, penguatan bahasa daerah di sekolah menjadi salah satu upaya untuk memperluas kembali ruang penggunaan Bahasa Jawa Serang di kalangan generasi muda,” tuturnya. (rk/yd/jb)
