
Belasan Hektare Sawah Puso, DKP3 Kota Serang Serang Siapkan Kebutuhan hingga 1,19 Ton Benih
SERANG, jejakbanten.com – Sebanyak 17 hektare lahan pertanian yang mengalami puso akibat kekeringan di Kota Serang diprioritaskan mendapat bantuan benih padi pada musim tanam tahun depan.
Lahan puso yang berada di Kecamatan Curug tersebut telah masuk dalam Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) penerima bantuan. Namun, realisasinya masih bergantung pada ketersediaan anggaran.
Kepala Bidang Pertanian dan Penyuluhan DKP3 Kota Serang, Irwin Sopyanudin, mengatakan lahan yang mengalami puso menjadi prioritas dalam pengusulan bantuan benih.
“Yang 17 hektare sudah kami masukkan untuk CPCL dan diprioritaskan mendapat bantuan benih tahun depan. Tapi (realisasi) tergantung dari anggarannya,” ujarnya, Selasa 22 September 2026.
Ia menjelaskan, kebutuhan benih bergantung pada metode tanam yang digunakan. Untuk pola tanam reguler, kebutuhan benih sekitar 25 kilogram per hektare. Dengan luas 17 hektare, kebutuhan mencapai sekitar 425 kilogram.
Sementara jika petani menggunakan metode tanam benih langsung, kebutuhan meningkat menjadi sekitar 70 kilogram per hektare. Dengan luasan yang sama, kebutuhan benih mencapai sekitar 1.190 kilogram atau 1,19 ton.
“Kalau misalnya penanamannya metode itu, tiga kali lipatnya per hektare,” katanya.
Dengan demikian, kebutuhan teknis benih untuk 17 hektare lahan puso berkisar 425 kilogram hingga 1,19 ton. Namun, jumlah yang benar-benar disalurkan masih menunggu penetapan anggaran dan program bantuan.
Di sisi lain, pendataan dampak kekeringan di Kota Serang masih berlangsung. Data per 14 September mencatat sekitar 40 hektare lahan terdampak, dengan 17 hektare di antaranya telah berstatus puso dan dua hektare lainnya terancam puso.
Irwin mengatakan status puso ditentukan berdasarkan pemantauan petugas di lapangan melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT). Penilaian dilakukan berdasarkan kondisi tanaman dan tingkat kerusakan akibat kekurangan air.
“Untuk penentuan puso dan yang lain-lain kami ada petugasnya. Petugas di PUPT yang menentukan,” tuturnya.
Menghadapi kondisi tersebut, DKP3 mendorong petani menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air. Palawija menjadi salah satu pilihan karena membutuhkan air lebih sedikit dibandingkan padi.
Namun, sebagian petani masih memilih menunggu hujan sebelum kembali menanam padi karena pertimbangan ekonomi.
“Kebanyakan petani sendiri lebih baik menunggu hujan datang, baru tanam padi lagi. Karena mungkin secara ekonomi lebih menguntungkan dibanding palawija,” ujarnya. (rk/yd/jb)
