
BPBD Kota Serang Petakan Kasemen dan Taktakan Rawan Kekeringan Saat Musim Kemarau
SERANG, jejakbanten.com – Ancaman kekeringan mulai menjadi perhatian di Kota Serang seiring masuknya musim kemarau.
BPBD Kota Serang memetakan sejumlah wilayah di Kecamatan Kasemen dan Taktakan sebagai daerah yang berpotensi mengalami kesulitan air bersih apabila kemarau berlangsung lebih panjang.
Kepala BPBD Kota Serang, Diat Hermawan, mengatakan potensi kekeringan menjadi salah satu fokus mitigasi yang akan dibahas bersama berbagai unsur melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Serang.
“Kekeringan di Kecamatan Kasemen hampir seluruh wilayah. Di Kecamatan Taktakan ada satu kelurahan yang berpotensi terdampak. Kalau duduk bersama, mudah-mudahan bisa sampai pada langkah fisik, baik sumber daya manusia, sumber daya alat maupun pemenuhan infrastruktur yang diperlukan,” ujarnya, Sabtu 20 Juni 2026.
Menurut Diat, penanganan risiko bencana tidak cukup dilakukan pemerintah sendiri. Keterlibatan relawan, akademisi, dunia usaha, media, hingga masyarakat diperlukan untuk menyusun langkah mitigasi yang lebih terarah.
Ia menilai berbagai komunitas kebencanaan selama ini telah aktif melakukan kegiatan kemanusiaan. Namun, upaya tersebut masih berjalan secara terpisah sehingga diperlukan wadah untuk menyatukan langkah dalam mengurangi risiko bencana.
Ketua Pelaksana Harian Forum Pengurangan Risiko Bencana Kota Serang, Muhlisin, mengatakan pengurangan risiko bencana bertujuan menekan dampak yang ditimbulkan ketika bencana terjadi, termasuk saat kekeringan melanda.
Menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi kerugian maupun gangguan terhadap aktivitas warga.
“Kami tidak bisa mencegah bencana terjadi, tetapi risiko akibat bencana bisa dikurangi. Minimal masyarakat tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi bencana, mampu menolong dirinya sendiri, keluarganya, hingga lingkungan sekitarnya,” katanya.
Ia menjelaskan forum yang dibentuk akan menjadi penghubung antara kebutuhan masyarakat dan kebijakan pemerintah daerah. Aspirasi maupun persoalan yang ditemukan di lapangan dapat dihimpun dan disampaikan kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti.
Ke depan, forum tersebut juga akan membentuk sejumlah bidang kerja, mulai dari advokasi, informasi, edukasi hingga penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.
Sementara itu, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana Kota Serang, Rinaldi, menilai langkah mitigasi harus dilakukan sebelum bencana terjadi.
Menurutnya, pendekatan pra-bencana menjadi kunci untuk menekan risiko yang muncul ketika bencana datang.
“Kita bermain di pra-bencana, bukan saat tanggap darurat. Harapannya ketika terjadi bencana, risiko yang ditimbulkan bisa jauh berkurang,” jelasnya.
Rinaldi mencontohkan ancaman banjir yang masih menjadi persoalan di Kota Serang dapat dikurangi melalui upaya sederhana, seperti menjaga kebersihan sungai dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Memasuki musim kemarau, ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan air bersih dan tidak melakukan pemborosan, terutama terhadap sumber air tanah.
Menurutnya, masyarakat dapat mulai menyiapkan cadangan air dengan memanfaatkan tampungan air hujan serta membuat biopori untuk membantu penyerapan air ke dalam tanah.
“Cadangan air itu akan sangat dibutuhkan saat kemarau panjang. Karena itu, penghematan penggunaan air dan upaya menjaga ketersediaan air tanah perlu dilakukan sejak sekarang,” paparnya. (rk/yd/jb)
