DaerahUtama

39 Hektare Sawah di Kota Serang Terdampak Kekeringan, 17 Hektare Puso

SERANG, jejakbanten.com – Lahan persawahan seluas 39 hektare di Kota Serang tercatat terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino beberapa waktu terakhir ini.

Dari jumlah tersebut, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Serang mencatat sekitar 17 hektare di antaranya telah mengalami puso atau gagal panen total.

Data tersebut merupakan hasil pendataan hingga 27 Agustus 2026 oleh tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Lahan terdampak tersebar di Kecamatan Kasemen, Cipocok Jaya, Taktakan, dan Curug.

Kepala Bidang Pertanian dan Penyuluhan DKP3 Kota Serang Irwin Sopyanudin mengatakan, dari total lahan terdampak, kekeringan kategori sedang mencapai 10 hektare, sedangkan kategori berat seluas 12 hektare.

“Untuk kondisi kekeringan kategori sedang seluas 10 hektare, di Kelurahan Umbul Tengah 2 hektare dan 8 hektare pulih di Kasemen dengan adanya pompanisasi,” ujarnya, Selasa 15 September 2026.

Kekeringan kategori berat terjadi di Kelurahan Pancalaksana dan Sukawana, Kecamatan Curug, masing-masing seluas 6 hektare. Sementara lahan yang mengalami puso tersebar di Kelurahan Tinggar seluas 12 hektare dan Banjarsari 5 hektare.

Irwin mengatakan, pendataan masih terus dilakukan mengingat El Nino diperkirakan berlangsung hingga akhir 2026, dengan puncaknya pada Oktober.

“Kami juga masih melakukan pendataan karena El Nino diprediksi sampai akhir tahun,” tuturnya.

Berdasarkan informasi BMKG yang diterima DKP3, musim hujan diperkirakan baru mulai memasuki Kota Serang dan sekitarnya pada awal 2027.

Kondisi tersebut membuat petani diminta menyesuaikan pola tanam untuk mengurangi risiko kerugian.

DKP3 akan membantu petani yang masih memiliki sumber air melalui program pompanisasi.

Sementara petani yang tidak memiliki akses air diminta menunda tanam padi dan beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air.

“Untuk mengurangi kerugian petani jika tidak ada sumber air, diharapkan jangan melakukan pertanaman, beralih ke tanaman yang tidak membutuhkan air banyak, misalnya palawija,” katanya. (rk/yd/jb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *