DaerahPendidikanUtama

Anggaran Renovasi SDN Pamarican 2 Butuhkan Anggaran Rp1 Miliar, Kadindikbud Kota Serang Ajukan BTT

SERANG, jejakbanten.com,- Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang, Ahmad Nuri mengajukan Belanja Tak Terduga (BTT) untuk merenovasi SDN Pamarican 2, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen yang puluhan tahun menjadi wilayah langganan banjir.

Bahkan Nur menyebut, jika kondisi tersebut masuk dalam bencana serta darurat pendidikan, karena para murid tidak dapat bersekolah dan melakukan aktivitas kegiatan belajar mengajar seperti biasanya.

“Kita sudah ke lokasi hari Sabtu kemarin, dan memang kondisinya bencana pendidikan. Banjir cukup parah, air setinggi 60 sentimeter saat saya ke lokasi. Kalau dipaksakan sekolah, jelas berisiko. Apalagi banyak ular yang muncul di sekitar area,” ujarnya, Selasa 11 November 2025.

Menurut dia, SDN Pamarican 2 Kecamatan Kasemen menjadi salah satu wilayah langganan banjir selama puluhan tahun setiap kali musim penghujan tiba, dan belum ada penanganan secara konkret.

Maka pihaknya berninisiatif untuk mengatasi bencana pendidikan tersebut, dengan mengajukan BTT sebesar Rp1 miliar.

“Saya sudah langsung menghadap Pak Wali, dan Alhamdulillah diizinkan untuk menggunakan dana dari BTT, sekitar Rp1 miliar. Pengajuan itu karena memang sifatnya mendesak dan darurat. Ini sudah masuk bencana pendidikan,” jelasnya.

Pihaknya telah mengirim surat resmi ke Wali Kota Serang dan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) untuk memproses penganggaran serta administrasinya.

“Kita sudah bersurat ke Walikota dan diteruskan ke BPKAD. Harapannya segera diproses dan bisa ada tindakan nyata dalam waktu dekat, (Pengajuan BTT) sekitar Rp1 miliar lebih mudah-mudahan bisa diberikan semua atau setengahnya,” katanya.

Persoalan banjir di SD Pamarican 2 Kasemen bukan hal baru, bahkan sudah puluhan tahun terdampak setiap kali musim hujan, dan beberapa kali kegiatan belajar mengajar harus terhenti hingga tiga bulan. Posisi sekolah yang berada lebih rendah dari jalan utama menjadi penyebab utama genangan air.

“Makanya, kami dari Dindikbud berencana untuk melakukan peninggian lantai bangunan setara dengan jalan utama, agar air tidak lagi masuk ke area kelas. Kami tidak bisa biarkan situasi ini terus berulang setiap tahun. Ini sudah termasuk kondisi darurat pendidikan, jadi harus ada langkah perbaikan permanen,” tuturnya. (rk/yd/jb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *