BPBD Kota Serang Persiapkan Mitigasi Hadapi Anomali Cuaca
SERANG, jejakbanten.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang mulai melakukan kesiapsiagaan sebagai langkah mitigasi bencana kekeringan dan banjir.
Hal itu menyusul adanya prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang merilis wilayah Serang mulai memasuki musim kemarau dan hujan dengan intensitas sedang hingga deras.
Sekretaris BPBD Kota Serang, Heri Sumbara mengungkapkan, BMKG merilis prakiraan cuaca di Kota Serang akan mengalami kekeringan.
Namun realita di lapangan pola cuaca tidak menentu, bahkan kerap terjadi hujan dengan intensitas tinggi masih sering mengguyur secara mendadak.
“Berdasarkan rilis BMKG, Kota Serang memang mulai menghadapi musim kemarau. Tetapi, akhir-akhir ini sering terjadi hujan deras tiba-tiba yang berpotensi menimbulkan genangan atau banjir di beberapa titik,” ujarnya, Minggu 12 April 2026.
Pihaknya mengaku, saat ini telah melakukan persiapan serta apel rutin untuk kesiapsiagaan baik dari sisi personel maupun kelayakan peralatan.
“Fokus utama kami antisipasi fenomena memasuki musim kemarau, dimana potensi kekeringan membayangi namun curah hujan tinggi yang tiba-tiba masih kerap terjadi,” jelasnya.
BPBD juga telah menyiapkan dua skenario mitigasi kebencanaan dengan menyiagakan pompa air atau alkon berkapasitas besar dan armada perahu karet untuk evakuasi di titik genangan, sebagai upaya mitigasi banjir.
“Kemudian kedua menyiapkan satu unit mobil tangki air dan distribusi tandon (toren) di wilayah kritis, untuk mitigasi kekeringan,” katanya.
Berdasarkan rekam jejak tahun-tahun sebelumnya, yang paling rentan terdampak krisis air bersih saat suhu meningkat, termasuk bencana banjir adalah Kecamatan Kasemen.
“Wilayah pesisir utara, kata dia, terutama di Kecamatan Kasemen menjadi titik merah yang paling dipantau,” ungkapnya.
Pihaknya juga berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten, hingga PT Sauh Bahtera Samudra (SBS), serta Perumda Tirta Madani untuk suplai air bersih.
”Kami berharap kemarau tahun ini adalah kemarau basah, sehingga sumber mata air warga tetap terisi meski suhu meningkat,” tuturnya. (rk/yd/jb)
