
Ratusan Koperasi di Kota Serang Tidak Aktif
SERANG, jejakbanten.com – Ratusan koperasi di Kota Serang belum menjalankan usaha secara aktif. Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan (DinkopUKMperindag) Kota Serang mencatat, dari 368 koperasi kategori konsumsi, hanya 156 koperasi yang masuk kategori aktif berdasarkan pelaporan Rapat Anggota Tahunan (RAT).
Kepala Bidang Koperasi DinkopUKMperindag Kota Serang, Marta Satria Subing mengatakan, kondisi tersebut umumnya dipengaruhi stagnasi usaha koperasi. Pelaporan RAT menjadi salah satu indikator awal yang digunakan untuk melihat keaktifan koperasi.
“Rata-rata sebenarnya stagnan di usaha. Kami mengukur aktif atau tidak, indikator utamanya dari pelaporan RAT. Dari laporan yang disampaikan kepada kami, terlihat koperasi yang masih menjalankan kegiatan dan yang usahanya tidak berkembang,” ujarnya, Selasa 13 Oktober 2026.
Ia merinci, dari total 368 koperasi kategori konsumsi, sebanyak 156 berstatus aktif. Sementara itu, koperasi simpan pinjam tercatat sebanyak 25 unit, dengan tujuh di antaranya aktif.
“Adapun koperasi kategori pemasaran berjumlah tiga unit, sedangkan koperasi kategori pemilikan mandiri juga tercatat tiga unit,” jelasnya.
Menurut Marta, data kesehatan koperasi untuk 2026 belum dirilis secara resmi karena pemeriksaan dan pengawasan dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun.
Sementara itu, data 2025 tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan angka yang dipaparkan, dengan penambahan sekitar satu hingga dua koperasi pada setiap kategori.
Dia juga menyebut terdapat sejumlah koperasi bermasalah yang menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Tapi untuk koperasi yang berada dalam lingkup pembinaan Kota Serang, sejauh ini pihaknya belum menemukan persoalan yang menonjol, khususnya pada koperasi simpan pinjam,” tuturnya.
Ia menjelaskan, sejumlah kasus koperasi yang sempat menjadi sorotan publik berkaitan dengan koperasi binaan pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi.
Meski bukan berada dalam kewenangan pengawasan langsung pemerintah kota, DinkopUKMperindag tetap melakukan koordinasi untuk mengantisipasi dampaknya terhadap warga Kota Serang.
“Kami tetap berkoordinasi secara informal dan meminta data, termasuk jumlah konsumen serta peminjam. Kami ingin melihat sejauh mana permasalahannya dan mengupayakan mitigasi risiko, terutama karena ada masyarakat Kota Serang yang menjadi korban,” katanya. (rk/yd/jb)
